Nama Lawang Sewu pasti sudah nggak asing lagi di telinga ShopBackers. Bangunan bersejarah ini sering kali dipakai sebagai tempat uji nyali untuk acara televisi. Selain itu, wisata yang disebut seribu pintu ni juga pernah menjadi latar utama dan lokasi syuting dari film horor buatan tanah air.

Seiring berjalannya waktu, pengurus bangunan ini melarang pihak mana pun yang hendak melakukan syuting tayangan yang berbau mistis. Namun, penyewaan untuk kebutuhan lain seperti tayangan film sejarah diperbolehkan. Tentunya, para pengurus ingin Lawang Sewu dikenal dari sisi sejarah dan arsitekturnya, bukan mistis.

Buat kamu yang penasaran dengan Lawang Sewu, nggak ada salahnya untuk berkunjung ke destinasi wisata bersejarah ini. Berikut ulasan singkat tentang Lawang Sewu yang perlu kamu cermati.

Sekilas Sejarah dari Lawang Sewu

Lawang Sewu dulunya adalah sebuah kantor yang dimiliki oleh NIS (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij). Namun, statusnya kini berubah menjadi museum. Nama gedung bersejarah ini berasal dari bahasa Jawa yang artinya “seribu pintu”. Letaknya ada di area yang dulu disebut Wilhelminaplein, yakni bundaran Tugu Muda, Jalan Pemuda, Sekayu, Semarang.

Bangunan ini mulai digarap pada tanggal 27 Februari 1904 atas perintah NIS. Mereka menyerahkan urusan desain gedung kantor kepada tiga arsitek asal Amsterdam, yakni B. J. Queendag, C. G. Citroen, dan Prof. Jacob F. Klinkhamer. Terciptanya gedung ini dikarenakan kantor NIS yang sebelumnya nggak lagi memadai. Belum lagi, posisi kantor sebelumnya berada di sekitar area rawa-rawa yang berpengaruh pada kualitas kebersihan.

Setelah berakhir masa penjajahan, Lawang Sewu diambil alih oleh PT KAI (Kereta Api Indonesia) yang dulunya bernama Perumka. Di dalamnya, terdapat koleksi kereta api, memorabilia, ilustrasi, serta sejarah seputar industri kereta api. Ada juga bangunan baru yang ditambahkan sekitar tahun 1916.

Arsitektur Bangunan yang Klasik dan Khas

Meski mempunyai arti nama “seribu pintu”, nyatanya jumlah pintu yang ada di Lawang Sewu nggak mencapai seribu, lho, ShopBackers. Terdapat jendela-jendela yang tingginya menyerupai pintu sehingga masyarakat setempat menganggapnya sebagai pintu. Jumlah jendela dan pintu yang ada di gedung ini sekarang tinggal 928 buah saja. Hal ini disebabkan pada masa-masa perang, banyak pintu yang dicuri oleh pihak-pihak nggak bertanggung jawab.

Bangunan utama terdiri dari tiga lantai dan punya dua sayap yang masing-masing membentang ke arah kiri dan kanan. Struktur gedung dirancang dengan konsep khas Eropa Klasik dan memiliki banyak jendela yang menyesuaikan iklim tropis di Indonesia. Selain itu, diciptakan lorong bawah tanah yang tergenang air dan dilengkapi ventilasi supaya lantai bangunan tetap sejuk.

Nah, ruang bawah tanah tersebut pernah dipakai sebagai penjara untuk para pejuang kemerdekaan Indonesia. Terdiri dari penjara duduk setinggi satu meter dan penjara berdiri yang cuma bisa diisi satu orang saja. Pengunjung yang mampir ke museum diperbolehkan pergi ke ruang bawah tanah untuk mempelajari arsitektur pada masa lampau.

Ada juga kaca patri yang diproduksi oleh Johannes Lourens Schouten yang bergambar unik. Setiap kaca mengisahkan kesejahteraan Pulau Jawa, kekuasaan Belanda, serta industri perkeretaapian yang pernah berjaya. Salah satu kaca patri menggambarkan dua orang wanita, yakni wanita Belanda dan wanita suku Jawa.

Semua material yang digunakan untuk gedung utama atau Gedung A berasal dari Belanda. Baik dari genteng, ubin, hingga kacanya. Namun, setelah Perang Dunia I berkecamuk, Belanda nggak bisa mengirimkan material bangunan ke Indonesia untuk Gedung B. Jadi, Gedung B benar-benar memiliki komponen buatan lokal.

Hal-Hal yang Bisa Kamu Lakukan di Lawang Sewu

1.  Melihat-lihat koleksi museum

Melihat-lihat koleksi museum
Sumber Gambar: commons.wikimedia.org

Pameran koleksi yang ada di dalam museum, contohnya mesin tik, surat berharga, mesin hitung, mesin Edmonson, dan Alkmaar. Salah satu koleksi yang menarik di gedung ini ialah lokomotif kuno berwarna hitam peninggalan Belanda. Ukurannya sangat besar dan kamu bisa duduk seperti layaknya berada di dalam kereta asli. Banyak orang yang menjadikannya sebagai latar foto untuk pre-wedding.

2. Berburu foto di spot-spot terbaik

Berburu foto di spot-spot terbaik
Sumber Gambar: seva.id

Desainnya yang klasik dan megah memang bikin orang-orang berdecak kagum. Lawang Sewu memiliki beberapa spot foto terbaik yang cocok banget dijadikan sebagai background. Berikut spot-spotnya:

Halaman tengah

Bagian ini sangat digemari penduduk lokal maupun wisatawan. Alasannya karena halaman menampilkan pemandangan gedung yang ciamik dari posisi tengah. Tampak jendela-jendela dan pintu-pintu yang berderet rapi saat dilihat dari tengah-tengah halaman.

Pintu yang berjajar secara urut

Pintu sejenis ini bakal bikin fotomu jadi lebih beda. Akan muncul kesan yang unik saat kamu berpose di bawah ambang pintu. Foto akan menunjukkan efek pintu tak berujung yang bikin potretmu makin instagrammable.

Jendela kaca patri berilustrasi

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, jendela-jendela ini memberikan gambaran kisah semasa kolonial Belanda. Warna-warninya yang unik berpadu dengan ruangan yang gelap membuat foto terkesan misterius sekaligus aesthetic.

3.  Mengikuti acara-acara seru yang diadakan di museum

Mengikuti acara-acara seru yang diadakan di museum
Mengikuti acara-acara seru yang diadakan di museum
Sumber Gambar: merdeka.com

Lawang Sewu sering menjadi tempat untuk pengadaan acara-acara meriah. Salah satunya bazar dan pertunjukan musik jazz yang diadakan di Hari Museum Nasional. Pihak museum menyediakan beragam hiburan berupa permainan tradisional khas Indonesia.

Akses Menuju Lokasi, Biaya Masuk, Fasilitas, dan Jam Operasional

Akses Menuju Lokasi, Biaya Masuk, Fasilitas, dan Jam Operasional
Lawang Sewu – Sumber Gambar: id.wikipedia.org

Ada beberapa rute yang bisa kamu tempuh untuk mencapai destinasi wisata ini. Jika berangkat dari Yogyakarta, kamu bisa mulai dari Jalan Magelang―Purworejo menuju Jalan Raya Magelang―Semarang. Setelah itu, lanjutkan perjalanan hingga sampai di Jalan Raya Ambarawa―Magelang, lalu dilanjutkan ke Tol Srondol―Jatingaleh. Ikuti jalan untuk pergi ke Simpang Lima Kota Semarang dan ShopBackers akan menemukan Lawang Sewu.

Buat kamu yang berangkat dari Jakarta menggunakan transportasi umum, pilihlah bus atau kereta api. Bus yang digunakan adalah yang menuju Yogyakarta, lalu dilanjutkan kembali menumpangi bus rute Yogyakarta―Semarang. Nantinya, kamu akan diturunkan di Terminal Terboyo atau Terminal Banyumanik. Teruskan perjalanan dengan menyewa ojek untuk mendatangi area Simpang Lima.

Tersedia fasilitas musala, kamar mandi, ruang laktasi untuk ibu menyusui, pojok kuliner, ruang khusus merokok, ruang kesehatan, dan perpustakaan. Gedung bersejarah ini dibuka setiap hari pada pukul 07.00 sampai 21.000 WIB. Harga tiket masuk untuk anak-anak atau pelajar adalah Rp5.000, sedangkan dewasa harus membayar Rp10.000.

Itulah ulasan singkat mengenai Lawang Sewu yang perlu kamu pahami. Ternyata, destinasi wisata ini menyimpan hal-hal yang menarik banget, ya? Jadi, kamu nggak perlu mendengarkan rumor-rumor mistis yang beredar di kalangan publik. Cukup mampir ke sini bersama keluarga atau teman-temanmu dan rasakan wisata sejarah yang edukatif.

Waktunya mencari tiket perjalanan atau booking penginapan di sekitar Lawang Sewu. Awali dengan ShopBack setiap kali akan memesan di penyedia jasa perjalanan. Nggak cuma itu, kamu bisa belanja kebutuhan liburan lebih hemat dengan adanya cashback atau promo. Unduh aplikasi ShopBack ke ponsel pintarmu dan dapatkan manfaatnya!

Lihat juga review tempat wisata lainnya: