Sebagai salah satu candi Buddha terbesar di dunia, Candi Borobudur menjadi destinasi wisata favorit banyak wisatawan. Arsitektur yang megah dan kisah sejarah yang menarik membuat Candi Borobudur memiliki pesona tersendiri. Tidak ketinggalan relief yang penuh detail dan puluhan stupa yang memuat patung Buddha.

Tidak mengherankan kalau UNESCO menobatkan Candi Borobudur sebagai Situs Warisan Dunia. Terlebih, lokasinya juga tidak begitu jauh dari Yogyakarta, sekitar 1-1,5 jam berkendara saja. Kamu pun bisa mengaksesnya dengan cukup mudah. Begitu sampai, kamu tidak hanya akan mendapat pengalaman liburan yang berkesan, tapi juga banyak informasi berharga tentang Candi Borobudur!

Proses Pembangunan Candi Borobudur

Sumber gambar: unsplash.com

Selama tahun 780-840 Masehi, Dinasti Sailendra membangun Candi Borobudur. Mereka adalah dinasti yang saat itu sedang berkuasa. Pada awalnya, Candi Borobudur dibangun sebagai tempat ziarah dan tempat pemujaan Buddha. Harapannya, peninggalan Buddha terbesar di dunia ini bisa menjadi sumber petunjuk bagi manusia untuk mendekatkan diri pada kebijaksanaan menurut ajaran Buddha.

Pembangunan Candi Borobudur mengusung gaya Mandala, yang mencerminkan alam semesta dalam kepercayaan Buddha. Menggunakan struktur bangunan berbentuk kotak, Candi Borobudur memiliki empat pintu masuk dengan titik pusat berbentuk lingkaran. Pembangunannya sendiri dilakukan dalam beberapa tahap.

Cek juga :

1. Tahap pertama

Sebetulnya tidak ada yang tahu dengan pasti kapan Candi Borobudur mulai dibangun. Namun, banyak yang menyebutkan bahwa pembangunan dimulai pada tahun 750-an Masehi. Pada tahap pertama, pembangunan Candi Borobudur dilakukan dengan meletakkan pondasi dasar bangunan di atas kontur perbukitan tinggi.

Demi memperlancar pembangunan, Dinasti Sailendra memadatkan area bukit dan menutupnya dengan material struktur batu. Dari pemadatan ini, terbentuklah struktur yang menyerupai cangkang sehingga bisa ‘membungkus’ bukit tanah.

Lalu, untuk bagian bukit yang tersisa, mereka menutupnya dengan struktur batu secara lapis demi lapis. Jadi, memang awalnya rancangan bangunan Candi Borobudur terlihat seperti piramida dengan tingkatan bersusunnya. Namun, susunan tersebut diubah dan mereka menggantinya dengan rancangan tiga undakan pertama. Undakan-undakan inilah yang menutup struktur asli bangunan piramida awal tersebut.

2. Tahap kedua

Memasuki pembangunan tahap kedua, tidak ada terlalu banyak perubahan dilakukan. Pada tahap kedua ini, Candi Borobudur mendapatkan tambahan dua undakan persegi, satu undakan melingkar, dan pagar langkan. Pembangunan stupa tunggal atau induk berukuran besar di bagian atas juga dilakukan pada tahap kedua ini. Stupa inilah yang menjadi puncak ikonik di Candi Borobudur.

3. Tahap ketiga

Baru pada tahap ketiga inilah Candi Borobudur mengalami cukup banyak perubahan. Selain stupa induk yang sudah menjadi mahkota di puncak Candi Borobudur, sebetulnya di bagian puncak juga sudah ada undakan. Namun, kedua hal tersebut dibongkar menjadi tiga undakan lingkaran kecil. Berkat adanya undakan-undakan ini, mereka pun bisa membangun stupa-stupa kecil secara berbaris dan melingkar.

Undakan-undakan tersebut memiliki pelataran. Di pelataran inilah yang stupa induk tunggal diletakkan di bagian tengah sebagai mahkota puncak yang baru. Alasannya karena stupa lama terlalu besar dan berat sehingga berisiko.

Karena adanya perubahan ini, maka rancangan bangunan juga ikut mengalami perubahan jadi lebih luas dan lebar. Lalu, kaki asli bangunan Candi Borobudur mendapatkan kaki tambahan.

4. Tahap keempat

Tahap keempat pembangunan Candi Borobudur juga menjadi tahap finishing. Jadi, perubahan-perubahan yang dilakukan pun cenderung kecil. Berbagai langkah finishing ini meliputi pelebaran ujung kaki bangunan, penyempurnaan relief, perubahan tangga, penambahan pagar langkan di bagian paling luar bangunan, dan pelengkung atas gawang.

Zona-zona di Candi Borobudur

Sumber gambar: unsplash.com

Kalau kamu lihat dari luar ke dalam, ada dua bagian dalam Candi Borobudur yang terbagi menjadi tiga zona di bagian luar dan alam Nirwana di area pusat. Setiap zona memiliki filosofi tersendiri. Yuk, kenalan lebih jauh tentang zona-zona di Candi Borobudur!

Zona 1: Kamadhatu

Zona 1, atau disebut juga dengan Kamadhatu, merepresentasikan alam dunia yang terlihat dan sedang dialami oleh manusia sekarang. Ada sekitar 160 relief yang bisa kamu temukan di Zona 1. Relief-relief ini menjelaskan hukum sebab akibat, atau yang disebut juga dengan Karmawibhangga Sutra.

Penjelasan hukum sebab akibat digambarkan melalui cerita-cerita tentang sifat dan nafsu manusia. Contohnya seperti membunuh, merampok, penyiksaan, dan fitnah. Kalau mau melihat foto seluruh 160 relief secara lebih jelas, kamu bisa datang ke Museum Candi Borobudur di Borobudur Archaeological Park.

Zona 2: Rupadhatu

Dikenal juga dengan nama Rupadhatu, Zona 2 menggambarkan alam peralihan di mana manusia telah dibebaskan dari urusan dunia. Di zona ini, kamu bisa menemukan galeri patung Buddha dan ukiran relief batu. Setidaknya ada sekitar 328 patung Buddha dengan hiasan relief pada ukirannya.

Berdasarkan manuskrip Sansekerta, seperti yang dilansir dari situs borobudurpark.com, ada sekitar 1.300 relief di zona ini. Relief-relief tersebut mencakup Jataka, Gandhawyuha, Awadana, dan Lalitawistara. Seluruh relief membantang sepanjang 2,5 km.

Zona 3: Arupadhatu

Zona ini merepresentasikan alam tertinggi atau rumah Tuhan. Di Zona Arupadhatu, terdapat tiga serambi berbentuk lingkaran. Serambi ini mengarah ke kubah di bagian pusat. Kamu tidak akan menemukan hiasan atau ornamen apa pun. Hal ini dilakukan untuk menggambarkan kemurnian tertinggi.

Di Zona 3, bagian serambi terdiri dari 72 stupa berbentuk lingkaran berlubang. Tidak ketinggalan lonceng terbalik berisi patung Buddha yang mengarah ke bagian luar candi. Kamu bisa menemukan stupa paling besar di bagian tengah, dengan stupa-stupa lain mengelilinginya.

Relief Candi Borobudur

Relief Candi Borobudur
Sumber gambar: instagram.com/p/BwasooLDVSt

Berdasarkan penjelasan sebelumnya, kamu mungkin sudah bisa menebak bahwa letak relief di Candi Borobudur tersebar di zona-zona yang ada. Total ada sekitar 504 relief Buddha dengan sikap meditasi dan enam posisi tangan yang berbeda di Candi Borobudur. Relief-relief tersebut membentuk kesatuan cerita yang menarik untuk kamu ikuti.

Kalau kamu mau mengikuti alur cerita dari relief yang terpahat pada dinding Candi Borobudur, sebaiknya kamu berjalan mengelilingi candi jarum jam. Masuklah melalui pintu sebelah timur, lalu berjalanlah searah jarum jam sehingga posisi dinding candi bisa selalu berada di sebelah kanan kamu.

Kalau sudah sampai di tangga bagian timur, naiklah dan tetap lanjutkan perjalanan serah jarum jam. Lakukan hal ini secara berulang sampai kamu melewati semua tingkat dan akhirnya sampai di bagian puncak Candi Borobudur, yaitu induk stupa.

Penemuan Candi Borobudur

Sumber gambar: instagram.com/p/Bvvw4VoHZEC

Setelah pembangunan selama kurang lebih seratus tahun selesai, kabarnya Candi Borobudur sempat hilang karena terlantar dan tersembunyi selama berabad-abad. Tidak diketahui secara pasti penyebabnya. Namun, ada yang menyebutkan bahwa salah satu kemungkinan alasannya adalah karena ibu kota Kerajaan Medang pindah ke Jawa Timur karena adanya bencana gunung api meletus.

Akibat letusan gunung berapi pula, debu vulkanik yang terkumpul lama kelamaan menjadi lapisan tanah mengubur bangunan candi. Seiring berjalannya waktu, pohon dan semak belukar tumbuh di atas lapisan tanah tersebut. Masyarakat pun tidak tahu bahwa di bawah tanah bukit tersebut tersimpan candi raksasa.

Namun, pada tahun 1814 Masehi, Candi Borobudur akhirnya ditemukan kembali. Pasukan Inggrislah yang menemukan kembali Candi Borobudur di bawah pimpinan Sir Thomas Standford Raffles. Beliau dianggap sebagai sosok yang sangat berjasa dalam penemuan Candi Borobudur. Akhirnya pada tahun 1835, area Candi Borobudur berhasil dibersihkan seluruhnya.

Lokasi dan Akses Menuju Candi Borobudur

Sumber gambar: instagram.com/p/B5j_M86hoLB

Banyak yang mengira bahwa Candi Borobudur berada di Yogyakarta. Padahal, sebetulnya Candi Borobudur berlokasi di Jalan Badrawati, Kota Magelang, Jawa Tengah. Lokasinya cukup strategis, yaitu sekitar 40 km dari Yogyakarta, 86 km dari Solo, dan 100 km dari Semarang.

Karena lokasi strategis tersebut, akses menuju Candi Borobudur pun cukup mudah. Kebanyakan orang berkunjung ke Candi Borobudur melalui jalur Yogyakarta. Buat yang naik bus, kamu bisa berangkat dari terminal bus Jombor jurusan Borobudur.

Tapi kalau kamu turun di Bandara Adisutjipto, kamu bisa naik bus Damri dengan jurusan Candi Borobudur langsung. Sedangkan untuk yang di dalam kota, kamu bisa naik bus Trans Jogja dulu menuju terminal Jombor.

Harga bus menuju Candi Borobudur umumnya relatif murah, hanya sekitar Rp10.000 dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Begitu sampai di terminal Borobudur, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke area candi dengan mengendarai dokar, becak, atau berjalan kaki.

Mengendarai kendaraan pribadi menuju Candi Borobudur juga tidak sulit. Dari Yogyakarta, kamu bisa mengarahkan kendaraan melalui Jalan Magelang menuju Candi Borobudur. Kalau bingung, arahkan dulu kendaraan ke arah terminal bus Jombor. Lalu, berjalanlah ke arah utara menuju Magelang.

Setelah kurang lebih 40 km, kamu bakal bertemu Tugu Bambu Runcing Muntilan. Tidak jauh dari sini, terdapat pertigaan Palbapang. Di pertigaan ini, ambillah arah kiri. Jarak dari area Palpabang menuju Candi Borobudur sekitar 10 km.

Harga Tiket Masuk Candi Borobudur

Sumber gambar: unsplash.com

Agar bisa masuk ke Candi Borobudur dan menikmati kemegahan arsitekturnya, kamu harus terlebih dulu membeli tiket masuk. Harga penjualan tiket terbagi untuk pengunjung perorangan dan rombongan. Berikut rinciannya:

Tiket Perorangan

Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur: Rp40.000 (usia di atas 10 tahun), Rp20.000 (usia 3-10 tahun)

Paket TWC Borobudur, Pawon, dan Mendut: Rp60.000 (usia di atas 10 tahun), Rp30.000 (usia 3-10 tahun)

Tiket Rombongan

TWC Borobudur                                                        : Rp20.000 per orang

Paket TWC Borobudur, Pawon, dan Mendut      : Rp30.000 per orang.

Jam Operasional Candi Borobudur

Sumber gambar: unsplash.com

Candi Borobudur buka untuk umum setiap hari, baik itu weekdays, weekend, dan tanggal merah. Setiap harinya, Candi Borobudur buka pukul 06:00 hingga 17:00 WIB. Menariknya, terdapat pula program Borobudur Sunrise yang buka sejak pukul 04:30 WIB. Kalau membeli tiket masuk jenis ini, kamu bisa menyaksikan sunrise di Candi Borobudur yang memang terkenal eksotis.

Walaupun Candi Borobudur sudah berusia lebih dari seribu tahun, sampai sekarang masih menjadi salah satu tempat wisata paling populer di Jawa Tengah. Pesonanya tidak akan pernah kalah dari wisata-wisata baru yang bermunculan sekarang dan nanti.

Bagi yang belum pernah berkunjung ke Candi Borobudur atau sedang berkunjung kembali, sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukannya. Awali dengan ShopBack untuk booking akomodasi dan mendapatkan harga terjangkau. Kamu jadi bisa liburan di Candi Borobudur secara lebih hemat, deh!