Bullying adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Bullying sudah ada sejak dulu namun kembali lagi muncul menjadi permasalahan di Indonesia sekarang ini. Remaja ABG merupakan pelaku sekaligus korban yang paling rentan melakukan dan terkena bullying.

Bullying ini awalnya mungkin hanya untuk seru-seruan. Namun, jangka panjangnya, bullying dapat memberikan dampak terhadap korban, mulai dari gangguan psikologis, trauma, bahkan tidak mau bergaul dan lebih parahnya lagi ingin mengakhiri hidupnya.

Mungkin, di antara kamu pernah mengenal seseorang yang sering melakukan bullying. Yuk ketahui penyebab anak melakukan tindakan bullying ini.

Kurang perhatian

Image: huffpost.com

Rendahnya keterlibatan serta perhatian orang tua kepada anak membuat anak jadi suka mencari perhatian di lingkungan sekitarnya. Ada yang memilih untuk berprestasi dan menunjukan kemampuannya demi mendapatkan perhatian. Namun, sayangnya, ada juga yang memilih untuk melakukan bullying dan membuat onar bahkan keributan demi mendapatkan perhatian orang tuanya. Hal ini sangat penting diperhatikan bagi kamu yang akan menjadi orang tua agar selalu menjaga kadar perhatian kepada sang buah hati dengan memberikan perhatian yang cukup.

Ingin berkuasa

Image: studybreaks.com

Anak yang suka melakukan tindakan bullying biasanya sedang menunjukan kekuasaan dan kekuatannya demi mendapatkan pengakuan dari sekitar dengan menindas yang lemah dan menginginkan anak lain untuk mengikutinya di bawah tekanan rasa takut. Kalau kamu melihat orang yang arogan, bersikap bossy, bisa jadi dia suka menindas orang lemak dan anak yang tidak mau menurut dengannya.

Pola asuh dalam keluarga

Image: rimanews.com

Tak salah jika banyak yang mengatakan bahwa keluarga adalah faktor utama permasalahan yang terjadi pada anak karena keluarga merupakan pendidik pertama dan utama. Sikap bullying merupakan pengembangan dari sikap anak yang agresif. Mereka yang mengembangkan perilaku agresif tumbuh dalam pengasuhan yang tidak kondusif, mulai dari kedekatan yang tidak aman dengan pengasuhnya, tuntutan disiplin yang terlalu tinggi dari orang tuanya dan bahkan masalah hubungan kedua orang tuanya: konflik suami-istri, depresi, antisosial dan bahkan melakukan tindakan kekerasan di rumah.

Hal tersebut menyebabkan sang anak merasa pelampiasan terhadap tekanannya tersebut. Nah, depresi tersebut bisa jadi dilampiaskan kepada teman yang lemah.

Ekspos kekerasan dari media

 

Image: equator.co.id

Tak dapat dipungkiri bahwa media memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Bahkan, media juga menjadi kebutuhan pokok yang harus dipenuhi. Mulai dari televisi, surat kabar dan bahkan media online mengandung topik yang berkembang begitu pesat. Tak heran, tindak kekerasan juga banyak ditemukan di media, seperti adegan dalam sinetron atau reality show yang menunjukan adegan kekerasan, bullying, game atau melalui sosial media. Pada dasarnya, anak-anak yang masih dalam tahap belajar dan memiliki rasa penasaran tinggi akan menirukan hal-hal yang mereka lihat tersebut tanpa menyaringnya.

Makanya, sebagai orang yang sudah cukup dewasa, ada baiknya kamu ikut berperan mengawasi adik, keponakan atau saudaramu yang masih kecil saat mengonsumsi media.

Pernah jadi korban kekerasan

Image: lifestyle.okezone.com

Biasanya, anak yang pernah menjadi korban kekerasan memiliki keinginan untuk membalas apa yang sudah didapatkannya. Kekerasan tersebut bisa didapatkan dari orang tua atau menjadi korban orang asing. Kekerasan yang terjadi dari orang tua bisa jadi sebagai bentuk pendisiplinan dari orang tua terhadap anak dan sang anak tidak diperkenankan untuk melawan orang tua. Akhirnya, karena tidak memiliki kekuatan untuk membalas, sang anak hanya memendam perasaan tersebut dan membalaskan dendamnya kepada orang lain.

Riwayat berkelahi

Image: theconversation.com

Anak yang hidup dalam lingkungan yang menyimpang dari norma, misalnya lingkungan yang sering berkelahi atau bermusuhan akan lebih mudah meniru perilaku lingkungan tersebut dan tidak merasa bersalah saat melakukan hal yang sama. Bahkan, sang anak bisa cenderung merasa biasa saja dan tidak merasa melanggar norma. Hal ini dilakukan demi menunjukan kepada orang lain bahwa mereka merupakan golongan superior, berkuasa dan bisa mendapatkan pujian dari banyak orang.

Faktor pubertas dan krisis identitas

Image: homeschoolingalmanac.com

Faktor utama yang mencakup semua permasalahan yang telah disebutkan adalah faktor pubertas. Pubertas dan krisis identitas adalah hal yang normal terjadi di kalangan remaja. Dalam tahap mencari identitas dan juga eksistensi, biasanya para remaja hobi membentuk geng. Namun, ada geng yang normal, ada juga geng yang suka membuat onar dan melakukan hal-hal menyimpang. Biasanya, ada juga yang ingin menjadi kepala geng dengan mem-bully anggota gengnya demi mendapatkan kekuasaan yang ia inginkan.

Nah, sekarang kan kamu sedikit banyaknya sudah mengetahui penyebab bullying pada anak-anak. Ada baiknya, kamu juga ikut berkontribusi dalam menjaga dan mengawasi orang terdekatmu yang masih di bawah umur agar tidak melakukan bullying dan bahkan tidak menjadi korbannya.

Gimana pendapatmu mengenai kasus bullying yang akhir-akhir ini terjadi, ShopBackers? Yuk kasih komentar kamu di kolom di bawah ini!

Featured image: homeschoolingalmanac.com

Editor: Neschya Hertian

Join Sekarang di Komunitas ShopBack!

Promo Terbaru yang Pasti Kamu Suka!

Barang-Barang Serba Lima Ribu!

Yuk follow sosial media ShopBack untuk info, promo, dan kuis berhadiahnya!

Socmed-LINE

fb

IG

Socmed-4rev