Kalau ditanya hal seputar traveling, pasti hampir semua setuju kalau kegiatan ini sudah dianggap bukan lagi sebagai hobi, tetapi sebagai kebutuhan yang wajib dipenuhi oleh setiap orang. Yup, mencoba berbagai pengalaman baru dengan mengunjungi berbagai tempat yang ada di belahan dunia memang sungguh hal yang menyenangkan, mulai dari city tour sampai menjelajahi alam yang terbentang indah, seperti contohnya adalah kawasan wisata Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Kawasan wisata yang terkenal dengan primata orang utannya ini memang menjadi salah satu tujuan wisata yang banyak didatangi oleh wisatawan, baik dalam maupun luar negeri. Di sini, kita bisa mengunjungi berbagai camp konservasi dan menyaksikan langsung bagaimana orang utan ini melakukan kesehariannya, terutama saat feeding time atau waktu pemberian makan oleh ranger.

Bukan hal yang sulit kok untuk pergi ke Tanjung Puting, karena untuk bisa sampai ke sini kita tidak memerlukan biaya yang cukup mahal jika dibandingkan dengan wisata ke luar negeri. Hanya saja, kita harus menyiapkan fisik yang cukup kuat untuk menjelajahi alamnya, karena jika ingin melihat proses feeding time orang utan ini, kita harus berjalan masuk ke dalam hutan terlebih dahulu. Jika kamu termasuk orang yang sangat mencintai orang utan dan ingin bertemu secara langsung dengan primata yang semakin langka ini, maka tidak ada salahnya untuk meluangkan waktu dan menjadikan Tanjung Puting sebagai destinasi liburanmu selanjutnya. Lalu, apa saja sih yang harus kamu ketahui seputar berwisata di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting ini?

1. Solo atau group tour?

Travel Tanjung Puting

Untuk berkunjung ke Tanjung Puting, ada baiknya jika kamu mencari travel dan bergabung dalam sebuah group tour untuk mempermudah kegiatan kamu selama di sana. Apalagi jika kamu terpaksa harus pergi sendirian karena tidak ada teman yang menemani. Tenang, saat ini kan sudah banyak jasa open trip yang bisa dengan mudah kamu temukan di internet. Biasanya, open trip ini tersedia dalam pilihan tur 3 hari 2 malam dan 4 hari 3 malam.

Banyak keuntungan yang bisa kamu ambil dari open trip (group tour), diantaranya adalah bertemu dengan orang baru, tidak kesepian selama trip berlangsung, bisa berbagi makanan, memiliki itinerary yang jelas, dan pastinya akan jauh lebih menghemat pengeluaran karena tidak perlu menyewa kelotok (sebutan untuk kapal bagi masyarakat setempat). Bayangkan deh, berapa biaya yang harus kamu keluarkan untuk menyewa kelotok ini seorang diri?

Untuk perjalanannya sendiri, waktu itu kami memilih Jakarta sebagai destinasi asal. Kami terbang dari Bandara Soekarno Hatta menuju Pangkalan Bun menggunakan maskapai Trigana Air dengan harga tiket sekitar 800.000 rupiah (harga bisa berubah setiap waktu) dan biaya ikut trip sebesar 1.950.000 rupiah selama tiga hari dua malam. Dari Bandara Pangkalan Bun, kami dijemput oleh pihak trip dan langsung menuju Pelabuhan Kumai untuk naik kelotok.

2. Apa saja yang harus dipersiapkan?

wisata Tanjung Puting
Image: Pexels

Dari pengalaman tim ShopBack yang sudah pernah berkunjung ke Tanjung Puting beberapa waktu lalu, ini dia beberapa perlengkapan yang harus kamu bawa.

  • Pakaian secukupnya. Siapkan paling tidak dua buah kaus yang bisa kamu pakai untuk satu hari. Sesuaikan saja jumlahnya dengan berapa lama waktu yang kamu ambil untuk tur ini. Sedangkan untuk celananya sendiri, kamu cukup membawa dua potong celana panjang, satu khusus untuk trekking, dan satunya lagi bisa kamu pakai untuk bersantai selama di kelotok. Jangan lupa juga untuk membawa pakaian dalam, ya. Ini sungguh penting!
  • Topi, jas hujan, atau payung. Mengingat kalau kita memasuki kawasan Kalimantan dengan cuaca yang sangat panas saat siang hari, tidak ada salahnya untuk membawa topi untuk melindungi kepalamu dari sengatan sinar matahari. Meskipun begitu, cuaca di Kalimantan juga termasuk sangat susah ditebak, saat siang hari cuaca bisa saja sangat panas, namun dalam hitungan menit akan berubah dengan hujan badai. Maka, jangan lupa juga untuk membawa jas hujan, ya! Jas hujan ini adalah barang penting yang harus kamu bawa selama trekking di hutan untuk menyaksikan feeding time orang utan.
  • Obat-obatan pribadi. Selama tur berlangsung, otomatis kita akan jauh dari rumah, maka sangat penting untuk membawa obat-obatan pribadi. Apalagi selama tur nanti kita akan bermalam di atas kelotok menyusuri Sungai Sekonyer.
  • Peralatan mandi. Meskipun hidup di atas kelotok, kamu harus tetap mandi. Maka, jangan lupa juga untuk membawa perlengkapan mandimu sendiri.
  • Kain untuk selimut. Selain untuk membuat badan tetap hangat saat malam hari, kain ini juga berfungsi untuk menghindarkan kamu dari serangan nyamuk yang akan menyerang saat tidur.
  • Sepatu atau sandal yang nyaman untuk trekking. Pastikan juga untuk menggunakan sepatu atau sandal yang nyaman untuk trekking ya, ShopBackers. Saran dari kita sih, cukup bawa saja sandal gunung agar lebih praktis namun tetap nyaman untuk penjelajahan di hutan.
  • Jaket. Udara selama menyusuri Sungai Sekonyer bisa jadi sangat dingin, apalagi jika hujan. Maka, jangan lupa juga untuk membawa jaket. Tidak perlu terlalu tebal, yang penting bisa memberi kehangatan.
  • Krim anti nyamuk. Well, ini dia hal terpenting yang juga tidak boleh kamu lupakan saat berkunjung ke Tanjung Puting, yaitu krim anti nyamuk. Di sana, terutama di hutan akan ada banyak sekali nyamuk berukuran besar yang siap untuk menghisap darahmu. Jangan sampai lupa untuk membawanya, ya!
  • Kamera, baterai, dan charger. Untuk mendokumentasikan pengalaman kamu selama di Tanjung Puting, bawalah kamera atau bisa juga hanya dengan kamera handphone. Nah, selama hidup di atas kelotok, listrik hanya akan dinyalakan di waktu tertentu saja, maka pastikan kamu tidak lupa untuk mengisi daya handphone dan kamera kamu sampai penuh, ya!
  • Uang yang cukup. Di Tanjung Puting, untuk menemukan mesin ATM memang tidak semudah di kota besar. Maka, ada baiknya untuk menyiapkan uang tunai yang cukup di dompet kamu untuk membeli jajan dan oleh-oleh, ya!

3. Hidup di atas kelotok menyusuri Sungai Sekonyer

Kalau biasanya kita liburan akan menginap di hotel atau penginapan dengan fasilitas lengkap dan sangat nyaman, lain halnya dengan yang akan kita alami selama di Tanjung Puting. Yup, selama tiga hari berturut-turut kita akan hidup dan tidur di atas kelotok atau kapal menyusuri Sungai Sekonyer. Masing-masing kelotok yang ada di sana memiliki fasilitas yang berbeda, tergantung dari  biaya dan jumlah penumpangnya. Kamu bisa saja menyewa kapal untuk sendiri dengan fasilitas mewah, namun harus menyiapkan dana yang cukup besar juga. Kapal ini terdiri dari dua lantai, dengan ruang kemudi dan ruang untuk para ABK di bagian bawah dan ruang bersantai di bagian atas, satu buah toilet kecil, dan dapur. Lalu, di mana kamar tidurnya?

wisata ke tanjung puting
Image: Be Borneo

Eits, jangan salah. Saat siang hari, ruang bersantai ini digunakan sebagai tempat berkumpul, bercengkerama, dan makan yang dilengkapi dengan meja dan kursi santai. Namun, saat matahari mulai tenggelam, para ABK akan membereskan semuanya dan menyulap ruangannya sebagai kamar tidur lengkap dengan kasur busa dan kelambu agar terhindar dari gigitan nyamuk. Tenang, kamu tetap bisa tidur nyenyak kok saat malam hari, apalagi dengan latarbelakang suara orong-orong dan kerlip cahaya kunang-kunang.

wisata tanjung puting
Image: Be Borneo

Selama di perjalanan, kita akan banyak berbincang dengan pemandu dan juga peserta open trip lainnya. Kalau sudah tiba waktunya makan, semua berkumpul di tengah menunggu sajian masakan dihidangkan di atas meja. Tidak perlu khawatir, semua makanannya enak-enak lho, karena dimasak langsung dan khusus oleh ibu koki kapal yang juga ikut selama trip.

wisata tanjung puting
Image: Be Borneo

Serunya lagi, di hari terakhir trip kita disuguhkan kelezatan Soto Manggala, yaitu soto khas Pangkalan Bun yang banyak dicari oleh wisatawan. Berbeda dengan soto lainnya yang menggunakan ketupat, Soto Manggala disajikan dengan singkong rebus yang sangat empuk dan pulen, sohun, suwiran daging ayam, dan kuahnya yang kental. Yummy!

4. Mengunjungi camp orang utan

Selama trip berlangsung, kita akan berkunjung ke beberapa camp orang utan seperti Camp Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, dan Camp Leakey untuk menyaksikan mereka saat jam makan atau feeding time. 

  • Camp Tanjung Harapan

Sungai Sekonyer

Camp ini merupakan camp pertama yang dikunjungi saat pertama kali sampai di Kumai dan menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan Kelotok. Waktu itu masih jam 12 siang dan hujan turun dengan derasnya, membuat kita kesulitan untuk menikmati pemandangan sekitar karena kelotok ditutup menggunakan terpal. Namun, tidak lama hujannya berhenti. Kita bisa melihat pemandangan sekitar Sungai Kumai yang merupakan bagian dari jalur Sunga Sekonyer yang hanya terdiri dari pemandangan hijau pohon bakau, pohon pidada yang menumbuhkan akar napas, pohon kendeka, pohon nirih, dan pohon nipah.

Dermaga Tanjung Harapan
Image: Be Borneo
trekking tanjung harapan
Image: Be Borneo

Setelah kurang lebih dua jam lamanya menyusuri sungai, sampailah kita di dermaga Camp Tanjung Harapan. Dari sini, kita melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke dalam hutan dan menyusuri medan yang cukup licin dan banyak genangan air. Yaa, maklum saja ya namanya juga hutan hujan tropis. Sebelum memasuki hutan, peserta trip diharuskan memakai lotio anti nyamuk agar terhindar dari serangan nyamuk yang luar biasa banyaknya. Di dermaga saja nyamuknya sudah banyak lho, coba bayangkan bagaimana kalau di dalam hutan!

camp tanjung harapan

Akhirnya, kami menyusuri hutan selama kurang lebih 30 menit hingga sampai ke feeding spot. Benar saja, di sini nyamuknya jauh lebih banyak dan ganas, lho! Oh iya, ada baiknya menggunakan sepatu sandal dan celana panjang saat menjelajahi hutan menuju feeding spot, selain itu selalu bawa payung atau jas hujan untuk berjaga-jaga. Feeding time di Tanjung Harapan sendiri dimulai dari jam 15.00-16.30 WIB.

tanjung harapan

Di sini, pengunjung hanya diperbolehkan menyaksikan orang utan dari jarak kurang lebih 10-15 meter. Ranger yang bertugas memberi makan membawa dua keranjang yang berisi buah-buahan seperti pisang, mangga, dan jagung. Mereka saling bersahutan mengeluarkan suara “auuuu” untuk memanggil dan memberitahukan orang utan bahwa waktu makan mereka telah tiba. Tak berapa lama kemudian, datanglah orang utan dari berbagai arah dan banyak juga yang bergelantungan dari satu pohon ke pohon yang lain. Sungguh pemandangan yang menakjubkan!

bekantan di tanjung harapan
Image: Ade Ibadurrahman

Saat itu hari sudah beranjak sore dan feeding time pun berakhir, kemudian kami kembali ke kelotok untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya tak jauh dari Tanjung Harapan. Sang kapten menyalakan mesin dan mengemudikan kelotoknya menuju ke pemberhentian kami selajutnya, yaitu menyaksikan monyet bekantan yang berjemur di sore hari di atas pohon.

bekantan di tanjung harapan
Image: Ade Ibadurrahman

Hujan tidak lagi turun, udara terasa hangat. Waktu yang sangat tepat bagi para bekantan saling berkoloni dan berjemur sore itu. Ada puluhan bahkan mungkin ratusan bekantan, baik yang masih kecil maupun dewasa yang berjemur saat itu. Kalau kata pemandu trip, bekantan memang sangat menyukai udara di sore hari yang hangat untuk berjemur dan menampakkan diri di atas pohon.

Setelah selesai menyaksikan kawanan bekantan, kami kembali ke dermaga Tanjung Harapan untuk bermalam di atas kelotok hari itu. Berhubung hari sudah sore, beberapa diantara kami memutuskan untuk mandi. Oh iya, sedikit cerita tentang mandi di atas kelotok, kamu tidak perlu khawatir karena ABK sudah menyiapkan air bersih khusus untuk mandi. Sedangkan untuk buang air kecil, mereka sudah menampung air sungai yang berwarna merah kecokelatan untuk digunakan. Makanya, ada baiknya untuk tetap membawa tisu basah dan kering untuk berjaga-jaga, ya.

Saat malam tiba, kami berkumpul di dermaga di mana ABK sudah menyiapkan meja dan kursi untuk makan malam bersama lengkap dengan lauk pauk serta lilin yang menambah kehangatan kami saat itu. Makan malam berlangsung sangat menyenangkan, karena kami bisa saling bercanda dan berbincang mengenai banyak hal. Inilah enaknya kalau ikut open trip. Sembari makan, para ABK menyulap ruangan kelotok menjadi kamar tidur yang terdiri dari kasur busa dan kelambu agar terhindar dari nyamuk. Kira-kira pukul 9 malam kami mulai lelah dan mengantuk kemudian bersiap untuk istirahat sambil menikmati suara orong-orong saat malam hari. Seru!

  • Pondok Tanggui

Pondok Tanggui

Keesokan harinya setelah sarapan, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Pondok Tanggui untuk kembali menyaksikan feeding time orang utan, tentunya dengan melakukan trekking ke dalam hutan sebelum mencapai feeding spotnya. Waktu itu cuaca cukup terik, jadi kami merasa sedikit bebas untuk beraktivitas.

pondok tanggui

Nah, setelah trekking selama kurang lebih 15 menit melewati hutan dan pemandangan alam yang indah, kami sampai di feeding spot. Ternyata tempat ini sudah ramai wisatawan, baik lokal maupun mancanegara. Mereka sudah memilih tempat dan duduk rapi menunggu kedatangan sang orang utan.

pondok tanggui
Image: Ade Ibadurrahman
Pondok Tanggui
Image: Ade Ibadurrohman

Saat itu kami menunggu cukup lama sebelum akhirnya sekumpulan orang utan berdatangan dari berbagai arah untuk makan. Berbeda dengan camp pertama, di sini kami bisa melihat orang utan dalam jarak yang lebih dekat dan lebih banyak juga jumlah orang utannya.

Baca juga: 10 Festival Aneh di Dunia yang Patut Masuk Daftar Travelling Kamu

  • Camp Leakey

Setelah selesai menyaksikan feeding time di Pondok Tanggui, kami beranjak ke spot selanjutnya, yaitu Camp Leakey. Namun sayang, saat itu cuaca berubah drastis jadi mendung. Perjalanan ke Camp terakhir ini memang memakan waktu yang cukup lama dan gerimis mulai turun saat itu.

camp leakey

Kami menyusuri Sungai Sekonyer yang airnya semakin lama semakin menghitam karena zat yang keluar dari tanaman air ini. Namun, meskipun terlihat hitam, airnya sangat jernih dan membuat orang ingin nyebur untuk berenang. Tapi, jangan coba-coba ya, karena konon di bawah sana banyak buaya dan binatang air yang berbahaya. Sesampainya di dermaga Camp Leakey, ternyata sudah banyak juga kelotok yang parkir untuk menyaksikan feeding time.

orang utan camp leakey

Camp Leakey merupakan salah satu camp yang paling ramai dikunjungi oleh wisatawan, hal ini dikarenakan mereka bisa menyaksikan orang utan yang berkeliaran secara langsung dengan jarak yang sangat dekat. Buktinya, waktu sedang menyusuri jembatan kayu menuju feeding spot kami bertemu langsung dengan Siswi, orang utan yang cukup terkenal yang sedang ingin jalan-jalan dengan pengawasan langsung oleh ranger yang bertugas. Sungguh pengalaman yang menyenangkan sekaligus mendebarkan, karena takut kalau orang utan ini menyerang wisatawan secara tiba-tiba. Namun ternyata Siswi tetap melenggang dengan indahnya melewati kerumunan wisatawan, seolah-olah dia adalah artis terkenal. Lucu, ya!

orang utan camp leakeyTapi sayang, saat kami berjalan menyusuri hutan menuju feeding spot, hujan turun dengan lebatnya dan disertai petir. Begitu sampai, ternyata bangku untuk menyaksikan panggung orang utan yang sedang makan sudah terisi penuh oleh wisatawan yang mengenakan jas hujan. Akhirnya, saat itu tanpa pikir panjang kami memutuskan untuk kembali ke kelotok saja.

Lucunya, saat kembali ke kelotok, kami berjumpa lagi dengan Siswi yang sedang tidur santai sambil berteduh di pos. Waktu itu hujan masih turun dengan derasnya. Kami pun naik ke kelotok sambil menunggu anggota lainnya berkumpul lengkap, karena ternyata masih ada beberapa orang yang memutuskan untuk tetap tinggal dan menyaksikan langsung feeding time di Camp Leakey. Tidak berapa lama, hujan mulai reda dan berganti gerimis kecil saja sampai satu orang utan datang dari atas pohon menuju ke kelotok kami untuk mengambil makanan. Namun, dengan sigap pemandu dan ABK mengusir orang utan tersebut dengan cara menakutinya. Jika hal ini tidak dilakukan, maka sang orang utan akan tetap masuk ke kelotok dan ia akan susah diusir.

Namun, meskipun pengunjung bisa melihat orang utan secara langsung dan dalam jarak yang sangat dekat, ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi, yaitu wisatawan dilarang memegang, memberi makan, dan membuat keributan di sekitar orang utan karena hal tersebut bisa membahayakan wisatawan. Perlu kita ketahui juga bahwa populasi orang utan di Tanjung Puting ini juga semakin lama semakin berkurang, belum lagi saat ini sedang banyak sekali kasus penembakan terhadap orang utan. Sungguh menyedihkan, ya!

5. Menyaksikan kerlip kunang-kunang

wisata tanjung puting

Setelah itu, kami kembali melanjutkan perjalanan untuk makan malam dan mencari tempat untuk bermalam. Saat itu pemandu memilih sebuah tempat di mana kita bisa bermalam sambil melihat indahnya kerlip kunang-kunang. Benar saja, saat malam tiba, ribuan kunang-kunang itu muncul dan dalam sekejap suasana menjadi sangat indah dan cantik karena kerlipan cahaya dari kunang-kunang tersebut. Namun sayang, karena terlalu gelap, kami tidak bisa mengabadikannya. Keesokan paginya setelah sarapan dengan nasi kuning dan soto manggala, kami kembali ke Pelabuhan Kumai dan mengakhir perjalanan untuk kembali ke Jakarta.

Nah, itu dia pengalaman ShopBack berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting yang ada di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Secara garis besar, tempat ini memang sangat menarik untuk dikunjungi, apalagi untuk kamu yang menyukai primata orang utan. Namun, salah satu kelemahan dari wisata ini adalah kurangnya destinasi wisata lain dan juga kurangnya atraksi yang bisa kita nikmati di sana, karena selama kurang lebih tiga hari dua malam kita hanya akan melihat proses orang utan saja. Meskipun begitu, pengalaman hidup di atas kelotok sambil menyusuri sungai adalah hal yang patut kamu coba. Yuk, kita sama-sama melestarikan alam terutama keberadaan orang utan yang semakin langka saat ini, ShopBackers!

Mau ke Tanjung Puting dan menyaksikan orang utan secara langsung? Yuk rencanakan liburanmu dengan membeli tiket perjalanannya di Tiket.com melalui ShopBack. Selain kenangan indah bersama si dia, kamu juga bisa mendapatkan cashback serta promo menarik lainnya dari ShopBack.

Featured image: Ade Ibadurrohman