Selain Bank umum atau Bank konvensional, tentu kamu sudah familiar dengan Bank Syariah. Dari segi industri, Bank syariah turut andil dalam mendukung perekonomian nasional dan semakin signifikan.

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, Bank syariah memiliki progres perkembangan yang impresif, yang mencapai rata-rata pertumbuhan aset lebih dari 65% pertahun dalam lima tahun terakhir. Terlebih lagi dengan jumlah penduduk Indonesia yang mayoritas muslim, tentu akan mendorong pertumbuhan Bank syariah.

Prinsip dasar Islam coba untuk dikedepankan oleh Bank syariah dalam menerapkan segala hal terkait perputaran uang. Lalu, seperti apa sistem yang membedakan selain prinsip tersebut? Berikut ulasan yang bisa jadi referensimu memilih Bank konvesional atau syariah.

Aspek Bank Syariah Bank Konvensional
Hukum Syariah Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadist dan fatwa ulama (MUI) Hukum positif yang berlaku di Indonesia (Perdata dan Pidana)
Investasi Jenis usaha yang halal saja Semua bidang usaha
Orientasi Keuntungan (profit oriented), kemakmuran, dan kebahagian dunia akhirat Keuntungan (profit oriented) semata
Keuntungan Bagi hasil Dari bunga
Hubungan nasabah dan bank Kemitraan Kreditur dan debitur
Keberadaan dewan pengawas Ada Tidak ada

 

1. Investasi

Investasi menjadi salah satu pembeda antara Bank konvensional dan syariah. Pada bank konvensional, seseorang boleh mengajukan pinjaman terhadap usaha-usaha yang diizinkan atas hukum positif. Bank konvensional tidak mewajibkan perputaran uangnya harus dalam koridor halal.

Selama usaha tersebut memiliki hukum positif maka akan tetap diterima dalam pengajuan pinjaman. Bank konvensional akan menyalurkan kredit tanpa harus mengetahui uang tersebut disalurkan. Sementara itu,pada bank syariah, seorang akan diperkenankan meminjam dana apabila jenis usaha yang diajukannnya merupakan usaha halal dan tidak bertentangan dengan koridor Islam.

2. Return

Dalam sistem pembagian keuntungan, bank konvensional dan bank syariah juga juga memiliki perbedaan. Bank konvensional menerapkan sistem bunga tetap pada setiap pinjaman sebelum akhirnya memberikan suku bunga berfluktuasi atau floating rate kepada nasabah. Bank konvensional juga menganggap bahwa usaha yang dijalankan oleh nasabah akan selalu untung.

bank syariah
Image: tempo.co

Sementara itu, bank syariah menerapkan sistem keuntungan dari penggunaan modal dibagi sesuai dengan akad yang disepakati. Bank syariah lebih fokus pada prospek kemungkinan untung atau rugi usaha yang dibiayainya tersebut. Bank syariah akan menolak pengajuan pinjaman yang nasabahnya, jika dirasa tidak menguntungkan.

3. Akad

Salah satu yang paling membedakan antara Bank konvensional dan syariah yakni pada perjanjian atau akad yang harus sesuai dengan hukum islam. Dalam bank syariah akad harus menyertai rukun seperti  adanya penjual, pembeli, barang, harga, dan ijab qabul. Selain itu, syarat yang termasuk dalam kategori barang dan jasa harus halal, harga barang dan jasa harus jelas, tempat penyerahan harus jelas, serta barang yang ditransaksikan harus dalam kepemilikan penjual. Sementara itu, untuk Bank konvensional cukup melakukan perjanjian dengan hukum positif.

4. Dewan Pengawas

dewan pengawas bank syariah
Image: Kontan.com

Dalam menjalankan aktivitas perbankan, Bank konvensional dan Bank syariah sama-sama diawasi oleh dewan pengawas yang terdiri dari BI, Bapepam dan Komisaris. Namun, salah satu ciri yang membedakan antara bank Islam dengan bank konvensional adalah keharusan adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) pada Bank syariah. DPS bertugas mengawasi segala aktivitas bank agar selalu sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

5. Orientasi bisnis

Orientasi yang ada pada sistem bank konvensional lebih merujuk kepada orientasi keuntungan. Sementara pada sistem bank syariah yang mengedepankan prinsip islam yang juga memperhatikan aspek hidup dunia akhirat atas kerjasamanya.

Baca juga: 5 Syarat Kerjasama KPR Developer dengan Bank

6. Hubungan bank dan nasabah

Dari keterikatan hubungan bank dan nasabah, kedua lembaga perbankan ini juga memiliki perbedaan. Pada bank syariah lebih mengedepankan sistem kemitraan, sehingga segala hal yang dilakukan sesuai dengan akad dan transparan. Sementara pada bank konvensional hubungan nasabah dan bank disebut kreditur dan debitur atau hubungan pemberi pinjaman dengan penerima pinjaman.

Editor: Nimas Arini

Featured image: http://m.radarbangka.co.id/