Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki keindahan alam dan kekayaan budaya yang menjadikannya tujuan wisata domestik favorit saat ini. Savana Puru Kambera, Bukit Wairinding, dan Bukit Tenau adalah tiga dari banyak sekali panorama khas padang rumput Pulau Sumba. Sementara Pantai Walakiri, Pantai Mandorak, dan Pantai Mbawana juga hadir untuk menyuguhkan pemandangan laut biru.

Sebelum pergi ke Sumba, selain tiket pesawat dan penginapan, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu dan persiapkan.

Waktu yang tepat untuk ke Sumba

Pemandangan savana di Sumba saat peralihan dari musim kemarau ke musim hujan. Foto: Edna Tarigan

Ada dua pilihan waktu yang tepat untuk ke Sumba dengan masing-masing karakteristiknya. Pertama, saat musim kemarau di bulan April hingga Oktober. Saat kemarau, pemandangan padang rumput dan bukit di Sumba serba cokelat karena vegetasi sedang kering. Meski panas, cuaca di Pulau Sumba pada musim kemarau cenderung lebih cerah, sehingga menjadi waktu yang tepat untuk berburu foto benda-benda langit, seperti sunset, sunrise, dan milky way.

Sebaliknya, pemandangan serba hijau dapat dilihat di Pulau Sumba saat musim hujan yang berlangsung dari Oktober hingga Maret. Tingginya curah hujan membuat tumbuhan di Sumba tumbuh subur, sehingga pemandangan umumnya berwarna hijau.

Sekarang, tinggal memilih pemandangan seperti apa yang ingin kamu lihat di Sumba.

Road trip dari barat ke timur atau sebaliknya

Kawanan kuda di padang rumput menjadi pemandangan saat road trip. Foto: Edna Tarigan

Terdapat dua bandara yang menjadi gerbang utama Pulau Sumba, yakni Bandara Waikabubak di Tambolaka, Sumba Barat Daya dan Bandara Umbu Mehang Kunda di Waingapu, Sumba Timur. Kebanyakan wisatawan memilih memulai road trip-nya dari Sumba Timur menuju Sumba Barat Daya, atau sebaliknya. Dengan rute tersebut, wisatawan tidak perlu kembali ke bandara kedatangan sehingga dapat menghemat waktu dan biaya.

Ada banyak pilihan rental mobil untuk menelusuri tujuan-tujuan wisata di Sumba. Biasanya, tarif sewa mobil sudah termasuk dengan supir dan biaya bahan bakar minyak (BBM) selama perjalanan di Sumba.

Road trip di Sumba adalah pengalaman yang benar-benar tak terlupakan. Banyak pemandangan yang hanya bisa dilihat di Sumba, seperti kawanan kuda yang bebas lepas di padang rumput, deretan pohon konjil yang menyerupai bunga sakura di Jepang, atau anak-anak Sumba yang melambaikan tangan saat melihat kendaraan lewat.

Gunakan jasa pemandu lokal

Guide lokal tahu waktu dan lokasi terbaik untuk berfoto. Foto: Edna Tarigan

Setelah menentukan waktu dan jalur road trip, hal lain yang perlu diperhatikan saat berwisata ke Sumba adalah memilih pemandu wisata yang tepat. Sebaiknya, gunakanlah pemandu yang merupakan penduduk asli Pulau Sumba.

Tidak hanya mereka dapat membantu untuk menunjukkan lokasi wisata dan membantu dokumentasi, pemandu lokal juga sangat berperan untuk membantu berkomunikasi dan bersikap sopan dengan warga setempat.

Jika ingin menghemat pengeluaran untuk jalan-jalan, ada banyak open trip yang menawarkan paket wisata ke Sumba dengan menggunakan mobil, lengkap dengan supir sekaligus pemandu wisata.

Baca juga: Wisata Sumba Terbaik, Terpana Melihat 11 Tempat Wisata Bak Surga di Dunia

Siap-siap susah sinyal

Desa Adat Ratenggaro di Sumba Barat Daya. Foto: Faiz Zaki / Shutterstock.com

Dari sisi geografis, Pulau Sumba terletak hampir di sisi terluar Indonesia. Oleh karena itu, harap maklum jika tidak banyak operator telekomunikasi yang sinyalnya kuat di sana. Namun, bukan berarti kamu terisolasi sama sekali di pulau ini. Kamu bisa menggunakan provider Telkomsel untuk memastikan kamu tetap tersambung dengan sinyal telepon dan internet. Dengan demikian, kamu pun tetap dapat menghubungi orang-orang tersayang dan mengunggah foto-foto ke media sosial.

Persiapkan fisik yang matang

Pantai Mbawana yang hanya bisa dijangkau melalui tebing yang terjal. Foto: Edna Tarigan

Sumba memiliki banyak sekali wisata alam yang menawan. Namun perlu diingat kalau tidak semuanya dapat dijangkau dengan mudah dari tempat parkir. Kamu tentu tidak mau melewatkan birunya Air Terjun Waimarang di Sumba Timur atau pemandangan memukau Pantai Mbawana di Sumba Barat Daya yang ikonik dengan batu raksasa berbentuk cincin. Kedua lokasi ini dapat dicapai dengan berjalan kaki melalui medan yang tidak mudah. Meski demikian, panjangnya perjalan ke Air Terjun Waimarang dan terjalnya jalur ke Pantai Mbawana akan terbayar dengan pemandangan indah di lokasi.

Menjaga sopan santun

Salah satu warga lokal di Desa Adat Praijing yang difoto dengan meminta izin dahulu. Foto: Edna Tarigan

Ada banyak desa-desa adat yang bisa dikunjungi di Sumba. Mengunjungi desa adat bukan sekadar tentang memotret untuk Instagram, tapi juga tentang mengenal dan berinteraksi dengan warga asli Pulau Sumba.

Jangan lupa untuk tetap berlaku sopan saat mengunjungi desa-desa adat di Sumba. Kamu bisa saja kaget jika melihat sekelompok warga lokal membawa senjata tajam di jalan umum. Tetaplah menjaga sopan santun jika bertemu dan mintalah pemandumu untuk menjelaskan adat istiadat desa sekitar agar kamu tidak salah dalam bersikap. Di Desa Adat Ratenggaro, misalnya, wisatawan yang berkunjung juga tidak diperkenankan untuk memakai tenun dari desa lain.

Salah satu tip untuk bersikap sopan adalah dengan terlebih dahulu meminta izin untuk memotret mereka atau lingkungan di sekitar mereka.

Siapkan pakaian yang tepat

Mencoba papan loncat di Laguna Weekuri. Foto: Edna Tarigan

Pada akhirnya, tujuan mengunjungi Sumba tentunya adalah untuk bersenang-senang. Supaya lebih nyaman saat liburan, persiapkan perlengkapan dan pakaian yang tepat. Selain kamera dan properti untuk berfoto, jangan lupa siapkan juga pakaian untuk berenang di pantai atau di air terjun, outer dan topi untuk melindungi kulit dari terik matahari, serta tabir surya.

Jika tidak membawa outer atau kain dari rumah, jangan cemas karena Sumba adalah penghasil kain tenun dengan motif-motif purba yang sangat cantik. Tenun-tenun ini sangat nyaman dan tampak bagus sekali di foto.

Berlibur ke Sumba juga akan membuka mata kamu terhadap kondisi Indonesia Timur yang belum semaju kota-kota besar di Indonesia. Alangkah baiknya kalau jalan-jalanmu membawa manfaat bagi masyarakat setempat. Taman Bacaan Pelangi yang didirikan oleh Nila Tanzil dapat menjadi jembatan antara kamu dengan masyarakat Sumba. Taman Bacaan Pelangi memiliki sejumlah program yang fokus terhadap literasi dan pendidikan di Indonesia Timur. Saat ini Taman Bacaan Pelangi memiliki beberapa perpustakaan yang tersebar dari Sumba Barat sampai Sumba Timur. Selain mendonasikan buku, kamu juga bisa menjadi relawan, lho. Lihat info selengkapnya di situs Taman Bacaan Pelangi.

“Dapatkan tiket pesawat murah ke Sumba melalui Wego. Tiketnya hanya Rp3,9 jutaan! Klik di sini untuk penerbangan bulan Oktober.. Harga tiket dapat berubah sewaktu-waktu. Ayo, pesan sebelum kehabisan!”