Saat ini, banyak orangtua yang masih beranggapan bahwa anak yang cerdas adalah anak yang mendapat nilai bagus di pelajaran sekolah. Memang, kecerdasan kognitif itu penting, namun orangtua juga tidak boleh melupakan kecerdasan sosial anak.

Seseorang yang memiliki kecerdasan sosial akan memiliki banyak teman, mudah berkomunikasi, maupun berekspresi. Kecerdasan ini juga mendorong rasa empati anak sehingga tidak tumbuh menjadi pribadi yang egois. Oleh sebab itu, penting untuk melatih kecerdasan sosial seseorang sejak dini. Sebelum melatih kecerdasan sosial anak, kamu perlu tahu 7 prinsip dasar dalam kecerdasan sosial manusia, seperti yang dituangkan oleh penulis Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Social Intelligence: The New Science of Human Relationships (2017). 

1. Protoconversation

kecerdasan sosial
Sumber gambar: freepik.com

Protoconversation adalah kemampuan anak untuk merespon dan memahami pikiran serta perasaan orang lain. Dengan begitu mereka dapat berempati dan peduli akan kebutuhan orang lain, sehinga interaksi yang dibangun pun lebih lancar dan efektif. Seseorang yang memiliki kemampuan intelegensi sosial dalam prinsip ini berarti mampu memahami lebih dalam maksud dan niat orang lain melampaui apa yang dikatakan oleh orang tersebut.

Pemahaman ini bisa didapatkan bukan dari kata-kata yang dikeluarkan saja, tapi juga dari ekspresi, intonasi, dan gerakan yang dilakukan. Misalnya saja, sering kali dijumpai orang yang memendam emosi dan ingin meluapkannya dengan bercerita kepada orang lain. Namun terkadang, orang tersebut tidak mampu mengungkapkan apa yang ada di pikirannya sehingga hanya bisa mengekspresikannya melalui bahasa tubuh.

Dengan kecerdasan sosial yang tinggi, anak bisa tahu ketika temannya sedih, bahkan meski temannya tidak berkata sesuatu apapun. Bisa juga, ketika orang tua marah atau bersedih, anak bisa tahu bahwa orang tuanya tidak sedang dalam kondisi baik, hanya dengan kecerdasan sosial membaca bahasa tubuh dan raut muka.

2. Trigger Sosial

kecerdasan anak
Sumber gambar: freepik.com

Kemampuan otak kita dalam memproses interaksi sosial selalu melalui dua jalur. Pertama melalui The Low Road, yaitu insting dan The High Road, yaitu pemikiran logis. Orang dan tempat tertentu dapat memicu kita untuk bereaksi, inilah yang disebut trigger sosial. Melalui perasaan dan insting, kita bisa merasakan pemicu sosial yang dapat membuat kita merasa takut atau cemas ketika dihadapkan dengan orang dan keadaan tertentu.

Dalam hal ini, kecerdasan sosial yang dilatih dalam diri anak adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan trigger sosial yang ada. Karena kecemasan dan ketakutan yang ia rasakan saat masih kecil, dapat terbawa hingga dewasa.

Apa pun pemicu yang ada di sekitar serta perasaan yang ditimbulkannya, sebaiknya anak dapat dilatih untuk mengenali dan menyadarinya dalam pikiran. Sehingga tahu tindakan apa yang paling tepat ketika berhadapan dengan pemicu-pemicu tersebut. Nantinya, kemampuan berpikir logisnya yang akan berkembang dan ia bisa lebih menguasai diri ketika berhadapan dengan situasi yang tidak mengenakkan.

3. Secure Base

kecerdasan sosial anak
Sumber gambar: freepik.com

Secure base adalah ruang, tempat, atau kegiatan dan kebiasaan yang membantu seseorang untuk mengisi kembali tenaganya setelah melakukan pertemuan sosial. Anak perlu dilatih agar bisa meluangkan waktunya untuk dirinya sendiri setelah melakukan berbagai kegiatan yang membuatnya bertemu banyak orang, seperti pesta, bermain di taman bermain, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, berbeda tipe karakter anak, berbeda juga cara recharge energinya. Anak introvert cenderung recharge energi dengan berada di lingkungan yang sepi dan sendiri. Sedangkan, anak extrovert recharge energi dengan cara berbaur dengan kerumunan atau banyak orang. Tugas orang tua adalah melatih kecerdasan diri mereka untuk mengetahui mana tempat dan aktivitas yang cocok bagi anak untuk recharge energi.

4. Menularkan Energi Positif

 

Sumber gambar: freepik.com

Seorang anak yang mampu menularkan energi positif pada lingkungannya, sering dikategorikan sebagai anak dengan kecerdasan sosial yang tinggi. Ia adalah seorang mood-booster di tengah suasana atau kondisi lingkungan yang penuh tekanan atau kecurigaan. Ia adalah orang yang mengenali lingkungan sehingga ia selalu berusaha memberi energi positif.

Dalam hal ini, orang tua bisa melatih kecerdasan sosialnya dengan cara membiasakan anak tersenyum, ramah, baik, dan bersemangat. Dengan energi positif yang dimiliki sang anak, ia akan mengubah lingkungan yang penuh tekanan menjadi ruang yang menyenangkan. Mereka juga akan memilih untuk bergaul dengan orang-orang yang sama-sama menebarkan energi positif.

 

5. Kemampuan Adaptasi

Sumber gambar: freepik.com

Kemampuan adapatasi adalah kecerdasan sosial yang harus dilatih dan diasah sejak anak masih dini. Jika anak dibiasakan untuk bisa beradaptasi dengan berbagai lingkungan dan kondisi yang mungkin saja terjadi, ia akan menjadi anak yang bisa bergabung dengan banyak lingkungan tanpa kehilangan jati dirinya.

Kemampuan adaptasi ini merupakan kecerdasan sosial di mana anak mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Adaptasi dengan lingkungan adalah saat di mana anak mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, melebur dengan hal tersebut, namun tetap menjaga nilai positif dalam diri.

Seseorang yang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, dapat memahami situasi orang lain, dan dapat memilih sikap yang paling tepat ketika menjalani hubungan dengan orang lain. Misalnya, ia akan berempati ketika melihat temannya sedih ketimbang menampilkan ekspresi yang tenang-tenang saja yang bisa jadi membuat temannya merasa lebih buruk.

 

6. Waspada Tiga Sisi Gelap Kepribadian Manusia

Sumber gambar: freepik.com

Selain melatih kecerdasan sosial anak, orang tua juga harus berhati-hati terhadap tiga sisi gelap kepribadian yang bisa berkembang dalam diri manusia.

Tiga sifat kepribadian yang tidak masuk dalam kecerdasan sosial ini adalah kepribadian Machiavellian, kepribadian anti-sosial dan kepribadian narsis. Kepribadian Machiavellian adalah kepribadian di mana anak tumbuh sebagai orang yang memanipulasi dan mengeksploitasi orang di sekitarnya.

Sedangkan, kepribadian anti-sosial adalah di mana anak dapat tumbuh menjadi pribadi egois yang hanya menuruti kata hatinya dan tidak peduli dengan orang lain. Yang terakhir, kepribadian narsis adalah di mana anak memiliki pandangan yang terlalu memuja dirinya sendiri, hingga merasa dirinya selalu lebih hebat dari orang lain.

ShopBackers, kalau kamu punya anak kecil atau mungkin keponakan yang masih kecil, jangan lupa untuk latih prinsip dasar dan utama dari kecerdasan sosial di atas ya. Dengan begitu, ia akan menjadi pribadi yang positif, adaptif dan penuh rasa empati.

Setelah mengajarkan soal keceerdasan sosial, jangan lupa juga untuk memenuhi kebutuhan anak seperti makanan sehat, peralatan sekolah, maupun waktu untuk liburan. Kamu bisa membelikan kebutuhan si kecil dengan belanja online dengan diawali dulu dengan ShopBack.

Ada banyak promo potongan harga dan cashback yang ditawarkan oleh ShopBack di berbagai e-commerce favoritmu. Sebelum belanja, ingat untuk selalu awali dengan ShopBack, ya!