Kalau penduduk Indonesia punya Soeharto yang menjabat selama 31 tahun, penduduk Zimbabwe juga memiliki  Robert Mugabe, sosok pemimpin yang berhasil menjabat hingga 37 tahun, hampir empat dekade! Di balik  parlemen dan masyarakat yang bergembira dan mengadakan konvoi karena lengsernya Mugabe, mantan presiden berusia 93 tahun ini ternyata memiliki beberapa fakta yang mungkin tidak diketahui orang banyak. Penasaran? Simak, yuk!

1. Perjalanan karier politik Mugabe sangat panjang, hingga akhirnya ia dapat memerintah Zimbabwe selama hampir empat dekade

Image: CNN

Saat Mugabe kuliah di Universitas Fort Hare, ia mengikuti Kongres Nasional Afrika dan bertemu dengan orang-orang Yahudi Afrika Selatan yang memperkenalkannya pada pemikiran marxis. Di sana ia mulai memiliki ketertarikan dalam dunia politik, lalu coba mendalaminya dengan dasar ideologi marxisme.

Setelah lulus dari Universitas Afrika Selatan, ia mulai mengikuti gerakan-gerakan politik, terutama gerakan-gerakan inter-rasial, yaitu gerakan gabungan politik kulit hitam dan kulit putih di Rhodesia. Saat itu, Mugabe menjadi salah satu orang yang memiliki keinginan keras untuk memberantas sistem kolonial Inggris di Zimbabwe.

Saat ia masih menjalani profesi sebagai pengajar di Ghana, setelah lulus dari Universitas London sebagai Sarjana Administrasi, ia mendengar sebuah gerakan anti-kolonial Inggris berkembang di Rhodesia Selatan dipimpin oleh Southern Rhodesia African National Congress,  namun segera dihentikan oleh pemerintah kolonial setempat. Gerakan ini digantikan dengan gerakan lain yang berorientasi pada Partai Demokrasi Nasional (NDP).

Mugabe memutuskan untuk kembali ke Zimbabwe dan bergabung bersama 7000 demonstran lainnya untuk meminta pemerintah membebaskan seorang anggota NDP yang ditangkap pemerintah kolonial. Meskipun demonstrasi tersebut segera diberhentikan oleh polisi setempat, keesokan harinya jumlah demonstran bertambah menjadi 40000 orang. Karena profesi dan pendidikan yang didapat dari tiga universitas, Mugabe mendapat kesempatan untuk menjadi penyuara utama dalam demonstrasi tersebut. Sejak saat itu, dia memutuskan untuk berhenti menjalani profesi sebagai pengajar dan fokus menjadi seorang aktivis penuh waktu.

Akhirnya dia memimpin kongress pertama NDP pada 1960 dan terpilih sebagai sekretaris publisitas partai. Waktu itu, NDP juga dilarang. Oleh karena itu, dibentuklah Zimbabwe African People’s Union (ZAPU) sebagai penggantinya, di mana Mugabe terpilih menjadi sekretaris umum dan sekretaris publisitas. Namun, sembilan bulan kemudian, ZAPU juga dilarang karena dianggap melawan pemerintah. Akhirnya, ZAPU diganti menjadi ZANU, yaitu Zimbabwe African National Union, di mana Mugabe masih berpartisipasi secara aktif.

Pada perang Guerilla tahun 1975-1979, Mugabe juga turut berpartisipasi. Ia fokus pada urusan propaganda perang melalui pidato-pidato yang disiarkan secara rutin di radio. Dalam propaganda tersebut, ia memperkenalkan dirinya sebagai seorang yang menganut ideologi marxisme-leninisme. Ini menjadi awal ketertarikan Mugabe untuk memiliki posisi politik yang lebih tinggi di Zimbabwe. Sebelum jadi presiden Zimbabwe, dia menjalani profesi politik yang sangat panjang, termasuk menjadi Perdana Menteri Zimbabwe dari tahun 1980-1987.

2. Saat kecil, Mugabe kerap di-bully dan disebut sebagai ‘anak mami’

Image: VOA Zimbabwe

Mugabe lahir di sebuah desa kecil Rhodesia Selatan, Distrik Zvimba, Zimbabwe. Sejak kecil, ia dikenal sebagai seorang anak yang istimewa. Berbeda dengan anak kecil pada umumnya yang senang bermain di luar rumah, Mugabe lebih memilih untuk tinggal di rumah dan membaca buku. Ia menjadi salah satu siswa paling unggul di sekolah. Ia tidak pernah mau berolahraga di sekolah dan bersosialisasi dengan teman-temannya, tetapi memilih untuk duduk menyendiri sembari membaca. Oleh sebab itu, teman-teman di sekolah memberinya julukan ‘anak mami’.

3. Robert Mugabe menjadi salah satu presiden di dunia yang memiliki jiwa pengajar kuat. Ia juga merupakan lulusan dari tiga universitas yang berbeda

Image: Al Jazeera

Meskipun terlihat sangat politis, sejak muda, sebelum bahkan sesudah ia mendedikasikan diri pada dunia politik, Mugabe terlihat aktif mengajar. Ia memulai aktivitasnya sebagai pengajar di beberapa sekolah di Rhodesia Selatan. Hal ini dilakukan bahkan sebelum ia menempuh jenjang perkuliahan. Saat itu, ia mengaku sama sekali tidak tertarik pada dunia politik. Ia memperoleh beasiswa kuliah di di Universitas Fort Hare dan lulus sebagai Sarjana Seni bidang Literatur Sejarah dan Bahasa Inggris.

Pekerjaan pertamanya setelah meraih gelar sarjana adalah sebagai pengajar di sebuah sekolah Katolik, Driefontein Roman Catholic Mission School, dekat Umvuma, sebuah daerah di Zimbabwe. Setelah itu ia melanjutkan pendidikan ke Universitas Afrika Selatan, lalu lulus dengan gelar Sarjana Pendidikan.

Setelah lulus, ia mulai mengikuti beberapa gerakan politik, namun tetap memilih bekerja sebagai guru. Ia mengajar di Akademi Kepelatihan Guru Chalimbana di Lusaka, Zambia. Setelah itu, dia melanjutkan pendidikan ke Universitas London dan lulus sebagai Sarjana Administrasi. Gelar terakhir membawanya pada profesi sebagai tenaga pendidik di Akademi Kepelatihan Guru St.Mary di Ghana.

Jiwa pengajar Mugabe bahkan masih ditunjukkan saat ia dipenjara pada 1964 akibat pernyataan subversif yang dibuatnya di hadapan publik. Ia membuat kelas dan mengajarkan para narapidana mengenai literasi dasar, termasuk matematika dan bahasa Inggris.

Baca juga: Berani Travelling Ke 5 Negara Paling Berbahaya Di Dunia?

5. Mugabe menamai anaknya Nhamodzenyika yang berarti “negara yang menderita”, karena ia merasa negaranya masih terlalu didominasi oleh kekuasaan kolonial Inggris

Image: Bussines Daily Zimbabwe

Pada 1962, Hayfron, istri Mugabe, melahirkan seorang anak laki-laki. Anak tersebut diberi nama Nhamodzenyika yang berarti “negara yang menderita”, karena saat itu Mugabe, istri, dan pejuang anti-kolonial lainnya sedang mengalami masa-masa tersulit di Zimbabwe.

Pada tahun yang sama, ia ditangkap bersama beberapa pengurus ZAPU lainnya karena mereka membuat pernyataan subversif di hadapan publik. Mereka ditahan oleh pemerintah kolonial Inggris selama tiga bulan. Bukan hanya Mugabe, Hayfron juga ditahan selama 15 bulan karena ia mengeluarkan pernyataan bahwa “Ratu Elizabeth seharusnya berada di neraka” di depan publik.

Pada tahun 1964 , Mugabe kembali menjadi tahanan. Kali ini ia harus ditahan selama 21 bulan karena  menolak untuk menarik pernyataan subversif yang dibuat. Saat dia berada di penjara, Nhamodzenyika meninggal karena menderita enchepalitis, inflamasi pada otak. Dia meminta untuk diizinkan mengunjungi istrinya di Ghana, tapi pihak penjara tidak mengizinkan.

6. Mugabe tidak menanam sikap dendam atas penindasan yang berdasar pada rasisme yang terjadi di Zimbabwe pada masa pemerintahan kolonial Inggris

Image: Ghanamma

Meskipun penduduk Zimbabwe kulit hitam kerap mengalami diskriminasi saat terjadi kolonialisme Inggris, Mugabe sama sekali tidak menunjukkan sikap dendam sekalipun kekuasaan sudah berada di tangannya. Pada pidatonya saat terpilih menjadi Perdana Menteri pada 1980, ia meminta agar seluruh penduduk Zimbabwe berkulit hitam mau memaafkan penindasan-penindasan yang dilakukan penduduk Zimbabwe kulit putih pada masa kolonial Inggris. Ia mengharapkan persatuan antara kulit hitam dan kulit putih untuk mendukung perkembangan Zimbabwe di masa depan.

“Ingin mengetahui sejarah dunia lainnya? Yuk beli buku-bukunya di Tokopedia lewat ShopBack dan dapatkan cashback menariknya!”

Featured image: NPR

Editor: Nimas Arini